Maulid: Melahirkan Kembali Nilai-Nilai Profetik

Religi30 Dilihat

Oleh: Dr KH Muhammad Soleh Hapudin,M.Si

PORTALINDO.CO.ID – Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar mengenang hari ketika Rasulullah dilahirkan, tetapi momentum untuk bertanya: sudahkah nilai-nilai yang beliau bawa lahir kembali dalam kehidupan kita?

Rasulullah SAW telah wafat, tetapi risalahnya tidak pernah mati. Beliau meninggalkan nilai-nilai profetik yang harus terus hidup dalam setiap zaman: kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, kesabaran, keberanian membela kebenaran, dan kepedulian kepada sesama.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”(QS. Al-Ahzab: 21)

Karena itu, mencintai Nabi tidak cukup berhenti pada shalawat yang dilantunkan, tetapi harus berlanjut pada akhlak yang diwujudkan. Tidak cukup mengenang sejarah hidup beliau, tetapi harus menghadirkan nilai perjuangan beliau dalam kehidupan nyata.

Di tengah kehidupan modern yang sering diwarnai krisis keteladanan, kebencian di media sosial, hilangnya kejujuran, melemahnya kepedulian, dan mudahnya manusia saling menyakiti, nilai-nilai profetik semakin dibutuhkan.
Rasulullah SAW diutus bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteladani. Allah menegaskan:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107).

Maka, makna terdalam Maulid adalah melahirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam diri umat. Dari lisan yang kasar menjadi santun. Dari kebencian menjadi kasih sayang. Dari ketidakjujuran menjadi amanah. Dari egoisme menjadi kepedulian. Dari sekadar beragama secara ritual menuju keberagamaan yang menghadirkan rahmat.

Nabi Muhammad SAW telah lahir lebih dari empat belas abad yang lalu. Namun pertanyaan Maulid hari ini bukan lagi kapan Nabi dilahirkan, melainkan: kapan akhlak Nabi benar-benar lahir dalam diri kita?
Sebab Maulid yang sesungguhnya bukan hanya ketika kita mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi ketika kita mampu melahirkan kembali nilai-nilai Rasulullah dalam kehidupan.

Penulis adalah Direktur Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kader Ulama juga Ketua Umum MUI Kecamatan Karawaci