Editor: Ida Bastian
Portalindo.co.id, Kota Tangerang – Halal Fest ke 2 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang melalui Komisi Ukhuwah Islamiyah menggelar Seminar Ukhuwah Islamiyah di Gedung MUI Kota Tangerang, Senin (20/7/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Merajut Ukhuwah, Menjaga Kehalalan, Peran Ulama dan Umat dalam Mendukung Ekosistem Halal di Kota Tangerang.”
Seminar menghadirkan narasumber Ir. David Chalik, M.M., M.Ag. dan diikuti oleh perwakilan sekitar 18 organisasi kemasyarakatan serta peserta dari berbagai latar belakang, termasuk tokoh agama non-Muslim seperti pendeta Katolik dan Protestan. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dalam membangun kehidupan yang harmonis di Kota Tangerang.
Dalam paparannya, David Chalik menjelaskan bahwa ukhuwah merupakan fondasi utama dalam mewujudkan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis. Persaudaraan tidak hanya dibangun atas dasar kesamaan agama, tetapi juga karena nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Ia menjelaskan tiga bentuk ukhuwah, yaitu Ukhuwah Islamiyah sebagai persaudaraan sesama umat Islam, Ukhuwah Wathaniyah sebagai persaudaraan sesama anak bangsa, serta Ukhuwah Insaniyah (Basyariyah) sebagai persaudaraan antarsesama manusia.
Mengacu pada Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Hujurat ayat 13, David Chalik menegaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. Kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT.
Untuk membangun ukhuwah yang kokoh, ia menguraikan beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling membantu), takaful (saling menjaga dan bertanggung jawab), serta itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dalam kebaikan).
Ia juga mengingatkan bahwa perselisihan sering kali muncul bukan semata karena perbedaan, melainkan akibat kurangnya komunikasi, rendahnya empati, mudah terprovokasi, serta sikap merasa diri atau kelompoknya paling benar. Oleh karena itu, setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui dialog, tabayun, musyawarah, dan sikap saling menghormati.
Dalam pembahasan mengenai keadilan sosial dan ekonomi, David Chalik menekankan pentingnya zakat sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan. Menurutnya, zakat bukan sekadar ibadah individual, tetapi juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial dan mengurangi kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat.
Seminar juga membahas pentingnya membangun ekosistem halal yang tidak hanya berorientasi pada sertifikasi halal, tetapi juga mencakup aspek kebersihan, keamanan, kualitas, kemanfaatan, serta proses yang sesuai dengan syariat Islam. Perbedaan pendapat di kalangan ulama dan mazhab dalam persoalan fikih, lanjutnya, harus disikapi dengan ilmu, kebijaksanaan, dan sikap saling menghormati.
Di akhir penyampaian materi, peserta diajak untuk meneladani karakter orang beriman, yaitu tidak merasa paling benar, senantiasa melakukan introspeksi diri, menjaga kehormatan sesama, gemar menolong tanpa membedakan latar belakang, menghormati perbedaan, serta menerima ketentuan Allah SWT dengan penuh keridaan.
Seminar yang berlangsung hangat dan penuh keakraban ini menjadi wadah mempererat hubungan antarelemen masyarakat serta memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kerukunan, memperkokoh persaudaraan, dan mendukung terwujudnya ekosistem halal yang inklusif di Kota Tangerang.
Melalui kegiatan ini, MUI Kota Tangerang berharap semangat ukhuwah terus tumbuh di tengah masyarakat sehingga perbedaan menjadi kekuatan untuk saling mengenal, memahami, dan bekerja sama dalam membangun Kota Tangerang yang damai, religius, dan sejahtera.







