Portalindo.co.id, Jakarta – Pemerintah terus memperkuat pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari perencanaan pembangunan daerah. Integrasi peta risiko bencana ke dalam tata ruang dinilai penting untuk memastikan pembangunan permukiman, infrastruktur, dan kawasan ekonomi dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik serta potensi ancaman di setiap wilayah.
Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian mengatakan integrasi peta risiko bencana ke dalam kebijakan tata ruang merupakan langkah penting untuk menciptakan wilayah yang lebih tangguh.
“Integrasi peta risiko bencana ke dalam kebijakan tata ruang dan pembangunan infrastruktur menjadi langkah penting untuk menciptakan bangsa Indonesia yang lebih tangguh,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari perubahan pendekatan penanggulangan bencana, dari yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada penanganan setelah bencana terjadi menjadi pembangunan yang mengutamakan pencegahan dan pengurangan risiko.
Data InaRISK yang diperbarui pada 1 Oktober 2026 menunjukkan rata-rata indeks risiko bencana Indonesia berada pada kategori sedang, dengan 149 dari 514 kabupaten/kota tercatat memiliki risiko tinggi. Data tersebut dapat menjadi salah satu rujukan penting dalam menentukan prioritas mitigasi dan pembangunan daerah.
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional juga terus memperkuat tata kelola perencanaan ruang. Pada 2026, pemerintah menerbitkan Permen ATR/BPN Nomor 6 Tahun 2026 yang memperbarui tata cara penyusunan dan peninjauan rencana tata ruang wilayah provinsi, kabupaten, kota, dan rencana detail tata ruang.
Dengan integrasi data risiko, tata ruang, pembangunan infrastruktur, serta kesiapsiagaan masyarakat, pemerintah berharap pembangunan daerah dapat berlangsung lebih aman dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi potensi kerugian sekaligus memastikan investasi pembangunan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Sementara itu, Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ega Asti Anggari, menegaskan teknologi satelit mendukung penggunaan ponsel untuk navigasi dan komunikasi, serta dimanfaatkan untuk pemantauan lingkungan, prakiraan cuaca, dan mitigasi bencana. Data satelit membantu memantau wilayah terdampak banjir dan kebakaran secara cepat dan luas untuk mendukung pengambilan keputusan.
“Satelit navigasi membantu menentukan posisi dan arah pesawat, kapal, kendaraan, hingga pengguna telepon pintar. Teknologi ini memudahkan kita menemukan lokasi, merencanakan perjalanan, serta meningkatkan keselamatan transportasi,” tutur Ega.
Ida Bastian












