Portalindo.co.id, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat melalui pendekatan 3B sebagai strategi percepatan pemenuhan gizi pada fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan fase krusial dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Ermia Sofiyessi menjelaskan pihaknya terus memperluas sasaran penerima program MBG untuk usia 6-59 bulan sesuai petunjuk teknis Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang tata kelola penyelenggaraan program tersebut.
“Batasan usia kelompok anak balita juga sudah ditambah. Kalau mengikuti Perpres 115 Tahun 2025, anak 6-59 bulan itu menerima. Ini menjadi tantangan karena itu usia yang cukup kritis bagi anak-anak untuk menerima makanan,” katanya.
Pendekatan MBG 3B menitikberatkan pada prinsip Bergizi, Beragam, dan Berimbang. Skema ini dirancang untuk memastikan asupan nutrisi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita terpenuhi secara optimal, baik dari sisi protein, energi, vitamin, maupun mineral esensial.
“Dengan intervensi yang tepat pada fase awal kehidupan, risiko stunting, wasting, dan gangguan perkembangan kognitif dapat ditekan secara signifikan,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Prof Sitti Aida Adha Taridala mengatakan masalah kekurangan gizi pada anak masih menjadi tantangan nasional. Penguatan MBG 3B tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga edukasi gizi, pengawasan kualitas bahan pangan, serta sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kekurangan gizi pada anak masih menjadi tantangan nasional. Karena itu, perlu sinergi lintas sektor agar tercipta intervensi yang terintegrasi dan berkelanjutan” ujarnya.
Selain itu, program ini juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui pelibatan UMKM pangan dan pemanfaatan bahan baku domestik. Strategi tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.
“MBG 3B menjadi instrumen kebijakan yang berdampak ganda yaitu meningkatkan kesehatan generasi mendatang sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah,” jelasnya.
Dengan komitmen bersama dan pengawasan yang berkelanjutan, MBG 3B diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat pembangunan SDM Indonesia sejak awal kehidupan.
Ida Bastian







