Kesehatan Berkualitas Anak Diperkuat lewat Penanganan Gigi Berlubang dalam CKG

Portalindo.co.id, Jakarta – Pemerintah terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui pendekatan kesehatan preventif yang menyasar anak sejak usia dini. Salah satu langkah nyata yang kini mendapat perhatian luas adalah penanganan masalah gigi berlubang pada anak melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Data terbaru hasil pelaksanaan CKG menunjukkan persoalan kesehatan gigi masih menjadi tantangan serius. Dari hasil skrining terhadap 4,8 juta anak di 48 ribu sekolah di seluruh Indonesia sejak Januari hingga awal Mei 2026, ditemukan sekitar 41 persen atau 1,1 juta anak mengalami gigi berlubang.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, menegaskan bahwa temuan tersebut menjadi alarm penting bagi seluruh pihak untuk lebih serius memperhatikan kesehatan anak Indonesia.

“Hasilnya sebagai berikut, sebanyak 41 persen atau 1,1 juta anak mengalami gigi berlubang, sebanyak 22,1 persen atau 663 ribu anak mengalami peningkatan tekanan darah,” ujar Qodari.

Menurut Qodari, kehadiran CKG justru membuktikan negara hadir lebih awal dalam mendeteksi berbagai persoalan kesehatan tersembunyi pada anak. Dengan skrining yang dilakukan secara luas dan terintegrasi, pemerintah kini memiliki basis data yang lebih kuat untuk menentukan langkah intervensi yang tepat sasaran.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa masalah gigi berlubang memang masih mendominasi persoalan kesehatan anak Indonesia, terutama pada kelompok usia balita dan anak prasekolah.

“Masalah utama pada balita itu gigi berlubang. Ada 31 persen. Artinya satu dari tiga anak mengalami karies,” jelas Maria.

Ia menegaskan bahwa kesehatan gigi memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak, termasuk terhadap asupan gizi, kemampuan belajar, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Berbagai kalangan juga menilai langkah pemerintah melalui CKG merupakan kebijakan strategis yang sangat relevan dengan tantangan kesehatan generasi muda saat ini. Anggota Komisi IX DPR RI, Ashabul Kahfi, menyebut temuan kesehatan pada anak sekolah harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen bangsa.

Ia menilai hasil CKG tidak boleh berhenti sebatas data statistik, melainkan harus diikuti langkah konkret dalam membangun budaya hidup sehat di lingkungan sekolah dan keluarga.

“Kantin sekolah harus lebih sehat, aktivitas fisik perlu diperkuat, edukasi gizi harus masuk dalam keseharian siswa, dan orang tua perlu dilibatkan,” lanjutnya.

Ashabul Kahfi juga menekankan pentingnya keberlanjutan program skrining kesehatan nasional tersebut.

“Justru di sinilah pentingnya CKG. Tanpa skrining, kita mungkin tidak tahu ada masalah kesehatan tersembunyi pada anak-anak kita, mulai dari gigi berlubang hingga tekanan darah tinggi,” pungkasnya.

Sejumlah pakar kesehatan gigi juga mengingatkan bahwa gigi berlubang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengunyah makanan sehingga berdampak pada pemenuhan nutrisi harian dan proses tumbuh kembangnya. Karena itu, langkah pemerintah memperluas jangkauan pemeriksaan kesehatan anak dinilai sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas generasi penerus bangsa.

Melalui Program CKG, pemerintah menunjukkan komitmen kuat untuk membangun sistem kesehatan yang lebih preventif, inklusif, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Upaya ini menjadi bukti bahwa pemerintahan saat ini tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga serius memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik demi masa depan Indonesia yang semakin maju.

Ida Bastian

News Feed