Portalindo.co.id, Makassar — Publik tersentak, politisi asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), Idrus Marham menyatakan mundur sebagai Menteri Sosial (Mensos) dan pengurus Partai Golkar.
Hal itu dilakukan sebagai bentuk
pertanggungjawaban dirinya serta agar bisa berkonsentrasi menghadapi kasus hukumnya. Hal itu disampaikan kepada Presiden Joko Widodo, saat berkunjung ke Istana Negara, Jakarta, Jumat (25/8/2018).
Terlepas dari spekulasi terkait kasus yang membelit mantan Sekjen Partai Golkar, kita perlu apresiasi sikap Idrus Marham secara jantan menanggalkan jabatannya dan itu bagian dari Siri’ (malu).Saat ini, boleh dikata budaya Siri’ sudah mulai terkikis di tengah masyarakat. Siri’ merupakan pedoman hidup orang suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk.
Apa yang pertontonkan Idrus Marham merupakan cambuk bagi setiap pejabat negara di negeri ini, mulai dari lurah hingga presiden sekalipun, bahwa ketika sedang tersandung masalah hukum harus meletakkan jabatannya demi menjaga supermasi hukum.Biarkan hukum berjalan dalam koridornya. Soal siapa yang salah dan tidak, biar pengadilan yang memutuskan karena semua warga negara sama di mata hukum.
Dalam keyakinan orang Bugis-Makassar bahwa orang yang mati terbunuh karena menegakkan Siri’, matinya adalah mati syahid, atau yang mereka sebut sebagai Mate Risantangi atau Mate Rigollai, yang berarti, kematiannya adalah ibarat kematian yang terbalut santan atau gula dan itulah sejatinya kesatria.
Mengutip sebuah pepatah Makassar, “Sirikaji nanimmantang attalasa’ ri linoa, punna tenamo siri’nu matemako kaniakkangngami angga’na olo-oloka. Artinya, hanya karena Siri’ kita masih tetap hidup (eksis), kalau sudah malu tidak ada, maka hidup ini menjadi hina seperti layaknya binatang, bahkan lebih hina daripada binatang. (*)
Penulis Amr







