GARUT, portalindo.co.id – Dalam kunjungan kerja di wilayah Kodam III/Siliwangi, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., meninjau sejumlah program TNI Angkatan Darat yang menyentuh kebutuhan masyarakat dan lingkungan, mulai dari pemanfaatan energi _hydro micro_, penataan Situ Bagendit, hingga pengelolaan sampah, Jumat (4/9/2026).
Di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Kasad meresmikan kincir air Curug Rahong yang memiliki kapasitas _hydro micro_ hingga 25.000 watt. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi contoh pemanfaatan teknologi sederhana yang dapat dikembangkan di wilayah lain dengan potensi serupa melalui kolaborasi TNI AD dan pemerintah daerah.
“Di Garut kebetulan kita punya proyek _hydro micro_ itu bisa 25.000 watt, saya pikir ini akan menjadi contoh untuk di daerah-daerah lain. Kita lihat dalam perjalanannya, sehingga saya mencoba nanti di beberapa titik lagi, mudah-mudahan nanti bisa dikerjakan secara masif dan juga kita koordinasi dengan Pemda, dengan Kodim, dengan Polres,” ujar Kasad.
Selain pengembangan energi, Kasad menyampaikan bahwa kebutuhan jembatan di wilayah Garut dan Tasikmalaya akan kembali didata untuk memastikan akses masyarakat yang membutuhkan dapat dipenuhi, termasuk jembatan sederhana, jembatan beton, jembatan gantung, serta penyediaan air bersih.
“Mudah-mudahan bisa kita penuhi semua khususnya jembatan-jembatan sederhana, jembatan beton yang panjangnya 20 meter, dan jembatan gantung yang lebih panjang mungkin kita bisa kerjakan, dan juga kita kerjakan air bersih,” imbuh Jenderal Maruli.
Dari Cisewu, Kasad meninjau perkembangan penataan Situ Bagendit melalui udara. TNI AD sebelumnya telah terlibat dalam pembersihan eceng gondok dan tanaman air yang menutupi sebagian besar permukaan situ. Penataan tersebut juga diarahkan untuk menghidupkan kembali aktivitas masyarakat, termasuk UMKM di sekitar kawasan.
“Sebenarnya waktu saya datang ini udah hampir tertutup, tidak ada perahu dan sekitar 80 persen lebih tertutup (eceng gondok), kita coba bersihkan dan mulai ada warung-warung untuk menggerakan UMKM, di perjalanannya perawatan ternyata tidak mudah, ini yang akan kita evaluasi ke depannya,” jelas Kasad.
Kasad kemudian meninjau insinerator (alat pembakaran sampah) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciwastra, Bandung. Terkait fasilitas tersebut, TNI AD berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengevaluasi kelayakan operasionalnya. Jika dinyatakan memenuhi persyaratan, pengoperasian akan dipercepat. Sementara, jika belum layak, akan dicari alternatif pengolahan lainnya.
“Kita sudah menyampaikan kepada khususnya LH nanti, apakah ini sudah lulus untuk bisa dioperasionalkan. Kita bilang kalau ini bisa dipercepat, kalau memang sudah lulus evaluasinya, mungkin kita tingkatkan. Kalau memang tidak bisa, ya kita cari alternatif lain,” ujar Maruli.
Selain itu, TNI AD bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menyiapkan fasilitas pengolahan sampah menjadi solar yang ditargetkan mulai dibangun bulan ini, dengan masa pembangunan sekitar satu tahun dan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari. Model tersebut diharapkan dapat direplikasi di daerah lain dengan kapasitas sesuai kebutuhan, termasuk insinerator berkapasitas 300 hingga 500 ton per hari.
Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya TNI AD menghadirkan solusi yang dapat dirasakan langsung masyarakat, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi, pemulihan lingkungan, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait. (Dispenad)







